Senin, 03 Juni 2013

KOSEKUENSI INOVASI (CONSEQUENCES OF INNOVATIONS) DALAM PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Difusi inovasi merupakan langkah cerdas pemanfaatan jaringan sosial di masyarakat untuk selanjutnya terjadi adopsi inovasi sebagaimana yang dikehendaki oleh inovator. Inovasi dan perubahan merupakan dua kata yang tak terpisahkan. Dalam setiap inovasi terjadi perubahan, namun tidak semua perubahan disebut inovasi.Rogers (1983 : 11) menjelaskan, inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau objek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain. Kata "baru" bersifat sangat relatif, bisa karena seseorang baru mengetahui, atau bisa juga karena baru mau menerima meskipun sudah lama tahu. Indonesia mulai menerapkan Inovasi dan teknologi pada konsep pendidikan dan konsep belajar. Inovasi dan teknologi pada tataran ini menjangkau area konseptual pendidikan, misalnya konsep pendidikan yang membebaskan yang diungkapkan oleh Paul Freire, konsep Quantum Learning (Potter dan Hernacki, 2001), Accelerated Learning, dan sebagaimya.
Penerapan inovasi dan teknologi pada media belajar dan mengajar menjangkau area yang lebih sempit, yaitu merujuk pada penyelenggaraan proses pendidikan berupa proses belajar mengajar di sekolah, Penerapan yang dilakukan adalah elaborasi hasil teknologi sebagai media belajar di sekolah, misalnya Computer Assisted Instruction (CAI), alat-alat canggih berupa audio visual, alat-alat permainan edukatif atau media cetak berupa buku-buku, serta pengadaan alat-alat laboratorium yang berkualitas.
Suatu inovasi akan melahirkan konsekuensi.  Dalam dunia pendidikan Inovasi adalah hal yang mutlak dilakukan karena tanpa inovasi akan terjadi kemandekan pada dunia pendidikan yang kemudian berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, sosial dan lain-lain.
Sistem sosial terlibat secara langsung dalam proses keputusan inovasi  kolektif, otoritas dan kontingen dan mungkin tidak secara langsung terlibat dalam keputusan inovasi. Pada makalah ini akan membahas pengaruh sistem sosial dalam proses difusi, yaitu konsekuensi inovasi.
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan dalam konsekuensi inovasi pendidikan sebagai berikut:
a)      Pengertian konsekuensi inovasi
b)      Klasifikasi konsekuensi
c)      Struktur sosial dan konsekuensi penyetaraan
d)     Konsekuensi inovasi dalam bidang pendidikan

3.      Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
a)      untuk mengetahui pengertian konsekuensi inovasi.
b)      untuk mengetahui penjelasan tentang klasifikasi konsekuensi.
c)      untuk memberian penjelasan mengenai struktur sosial dan konsekuensi penetaraan.
d)     Untuk mengetahui konsekuensi inovasi dalam pendidikan.















PEMBAHASAN
1.      Pengertian Konsekuensi Inovasi
Dalam kamus Bahasa Indonesia konsekuensi berarti akibat (dari suatu perbuatan atau dari pendirian). Dan dalam bahasa Inggris consequence (konsekuensi) berati the effect, result, or outcome of something occurring earlier (efek, hasil, atau hasil dari sesuatu yang terjadi sebelumnya).
Sedangkan menurut Rogers (dalam Diffusion of innovations) Konsekuensi adalah perubahan yang terjadi pada individu atau suatu sistem sosial sebagai hasil pengadopsian atau penolakan terhadap suatu inovasi. Konseksuensi dari pengadopsian sebuah inovasi yaitu berupa invensi (pembaharuan) dan difusi (perubahan) yang menjadi tujuan yang ingin dicapai.
Meskipun pentingnya mempertimbangkan sebuah konsekuensi atau akibat dari sebuah inovasi, namun sedikit studi yang dilakukan oleh para peneliti difusi. Kurangnya perhatian dan data mengenai konsekuensi menyulitkan kita untuk mengeneralisasikan mengenai konsekuensi suatu inovasi. Kita dapat menguraikan berbagai konsekuensi dan menentukan katagori-katagori untuk mengklasifikasikan berbagai konsekuensi, namun tidak dapat diprediksi kapan dan bagaimana konsekuensi tersebut akan terjadi.
Tidak hanya para peneliti yang telah memberikan begitu sedikit perhatiannya mengenai konsekuensi, agen perubahanpun juga sama. Mereka seringkali berasumsi bahwa adopsi dari suatu inovasi yang diterapkan akan menghasilkan keuntungan semata bagi para adopter yang mengadopsinya. Asumsi tersebut merupakan sebuah bias pro-inovasi. Para agen perubahan akan menguraikan responsibilitasnya terhadap berbagai konsekuensi dari sebuah inovasi yang mereka kenalkan. Mereka harus dapat memprediksikan keuntungan dan kerugian suatu inovasi sebelum memperkenalkan sebuah inovasi pada klien-kliennya, namun hal tersebut jarang dilakukan oleh para agen.



2.      Klasifikasi Konsekuensi Inovasi
Ditinjau dari hasil inovasi yang diperoleh atau yang tampak dalam sistem sosial, konsekuensi inovasi dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
a.      Konsekuensi diharapkan dan tidak diharapkan
Konsekuensi yang diharapkan adalah suatu inovasi yang mempunyai pengaruh fungsional sesuai dengan keinginan individu atau sistem sosial. Sedangkan konsekuensi yang tidak diharapkan adalah suatu dampak yang timbul padahal hal tersebut tidak dikehendaki. Konsekuensi fungsional adalah akibat-akibat dari penyebaran suatu inovasi dalam suatu sistem sosial yang sesuai dengan keinginan dari pengadopsi. Akibat tersebut memiliki konotasi yang positif. Sebaliknya konsekuensi disfungsional adalah akibat-akibat dari pengadopsian inovasi yang tidak diinginkan oleh pengadopsi. Penentuan apakah suatu konsekuensi itu fungsional atau disfungsional, tergantung bagaimana inovasi tersebut mempengaruhi pengadopsi, kemudian waktu dimana ada saat tertentu mungkin belum dirasakan akibatnya yang posifitif, tapi mungkin nanti akan dirasakan setelah beberapa waktu.
Pada kenyataannya, banyak inovasi memberikan konsekuensi yang positif dan negatif, hal ini diakibatkan kekeliruan yang menganggap bahwa dampak yang diharapkan dapat dicapai tanpa mempertimbangkan akibat-akibat yang tidak diharapkan. Namun asumsi tersebut seringkali secara tidak disadari terjadi. Kesimpulan kita, bagaimanapun juga, hal ini umumnya sulit atau mungkin mengatur pengaruh sebuah inovasi untuk memisahkan innovasi yang diinginkan dari berbagai konsekuensi atau akibat yang tidak diinginkan.
b.      Konsekuensi langsung dan tidak langsung
Konsekuensi langsung adalah suatu inovasi mempunyai pengaruh yang segera terhadap individu atau suatu sistem sosial, sedangkan konsekuensi tidak langsung adalah inovasi yang memberikan pengaruh yang tidak segera.Konsekuensi langsung suatu inovasi menghasilkan perubahan-perubahan sistem sosial  yang terjadi  sebagai respon segera penyebaran suatu inovasi.
Konsekuensi tidak langsung adalah perubahan-perubahan dalam sistem sosial yang terjadi sebagai hasil konsekuensi langsung suatu inovasi yang masih memerlukan upaya tambahan dan prosesnya masih memerlukan waktu yang lebih lama.
Konsekuensi langsung sebuah inovasi merupakan perubahan pada individu atau sistem sosial yang terjadi secara langsung dari sebuah inovasi. Sedangan konsekuensi atau akibat tidak langsung merupakan perubahan pada individu atau sistem sosial yang terjadi sebagai hasil dari konsekuensi langsung suatu inovasi.
c.       Konsekuensi diantisipasi dan tidak diantisipasi
Konsekuensi yang diantisipasi adalah konsekuensi yang telah diperkirakan sebelumnya, sedangkan konsekuensi yang tidak diantisipasi adalah dampak ikutan yang muncul kemudian setelah adopsi atau menolak inovasi. Konsekuensi yang tidak diantisipasi bisa bersifat positif, bisa pula bersifat negatif. Konsekuensi ini juga disebut sebagai konsekuensi yang nampak dan yang latent.
Konsekuensi yang nampak adalah perubahan-perubahan yang terlihat dan dikehendaki oleh anggota sistem sosial yang mengadopsi suatu inovasi. Contoh yang tanpak dari suatu pengadopsian suatu inovasi misalnya : adanya pengembangan keterampilan kerja baru bagi orang yang menerapkan  penggunaan  gergaji mesin untuk memotong kayu. Sedangkan konsekuensi yang latent adalah perubahan-perubahan yang tidak tampak dan tidak dikehendaki oleh anggota suatu sistem sosial. Semakin maju dan modern suatu inovasi, akan semakin banyak pula menghasilkan konsekuensi baik konsekuensi yang nampak maupun yang tidak tampak.
Konsekuensi yang terantisipasi merupakan perubahan yang berkenaan dengan inovasi yang diketahui dan diingingkan atau dimaksud oleh para anggota sistem sosial. Konsekuensi yang tidak terantisipasi merupakan perubahan dari sebuah inovasi yang tidak diketahui dan diinginkan atau dimaksud oleh para anggota sistem sosial.

Bentuk, Fungsi dan Arti suatu Inovasi
Berbagai konsekuensi inovasi yang diharapkan, langsung, dan diantisipasi pada umumnya terjadi secara bersamaan, dengan konsekuensi atau akibat yang tidak harapkan, tidak langsung, dan tidak diantisipasi. Kami menunjukan sebuah ilustrasi dari generalisasi tersebut dalam memperkenalkan kapak baja atau alat pemotong dari baja pada warga masyarakat Yir Yoront di Australia, yang membawa banyak konsekuensi yang diharapkan, tidak langsung, dan tidak terantisipasi, termasuk rincian struktur keluarga, kemunculan prostitusi, dan “penyalahgunaan” innovasi itu sendiri.
Rogers dalam Ibrahim (1988), mengemukakan bahwa kesalahan yang biasa dilakukan oleh agen pembaharu ialah mereka hanya dapat mengantisipasi bentuk dan fungsi dari suatu inovasi, tetapi tidak dapat mengantisipasi arti inovasi bagi sasaran penerima inovasi. Kisah mengenai kapak baja mengilustrasikan tiga intrinsik elemen inovasi :
o    Bentuk dari inovasi, ialah wujud perubahan yang tampak (dapat diamati) sebagai perwujudan dari substansi inovasi. Misalnya Missionaris dan juga masyarakat Yir Yoront tahu betuk bentuk benda yang baru dikenalkan yaitu kapak dari baja, mungkin karena kebetulan bentuknya hampir sama dengan kapak batu yang telah dikenal
o    Fungsi dari inovasi, ialah sumbangan atau manfaat dari inovasi bagi kehidupan. Atau kontribusi yang diciptakan oleh suatu inovasi pada cara hidup para anggota sistem sosial. Misalnya suku Yir Yoront akan segera tahu bahwa kapak baja gunanya sebagai alat pemotong, yang digunakan dalam pelaksanaan tugas sehari – hari dalam kehidupannya sebagaimana guna dari kapak batu.
o    Arti atau makna dari inovasi, ialah persepsi inovasi yang subjektif dan tidak disadari oleh penerima inovasi (anggota sistem sosial). Para agen perubahan lebih mudah dapat mengantisipasi bentuk dan fungsi suatu inovasi untuk para kliennya dari pada arti atau makna. Misalnya suatu penerimaan kebudayaan akan timbul makna baru dan mungkin hanya memiliki sedikit kaitan dengan elemen yang sama dengan kebudayaan aslinya.
Mencapai (Equilibrium)Keseimbangan Dinamis
Terkait dengan keseimbangan suatu sistem sosial ketika inovasi akan dan sudah diadopsi dapat diklasifikasikan tiga jenis ekuilibrium:
a.       Stable equilibrium(keseimbangan yang stabil) , yakni ketika hampir sama sekali tidak ada perubahan dalam struktur atau fungsi suatu sistem sosial. Dalam hal ini, keseimbangan struktural maupun fungsional ketika inovasi diadopsi hampir sama dengan sebelum diadopsi. Ekuilibrium ini umpamanya ditemukan ketika inovasi dilakukan dengan sangat lambat, dengan tingkat massiveness yang rendah atau tidak terjadi sama sekali.
b.      Dynamic equilibrium(keseimbangan dinamis) , yakni ketika kecepatan atau kadar difusi dan adopsi inovasi melahirkan perubahan yang seimbang secara struktural dan fungsional atau seiring dengan kemampuan suatu sistem sosial untuk beradaptasi. Ekuilibrium dinamis ini, oleh karena itu, merupakan hal yang menjadi patokan bagi change agents dalam melakukan difusi inovasi.
c.       Disequilibrium(ketidakseimbangan), bahwa inovasi menyebabkan perubahan yang terlalu cepat sehingga sistem sosial tidak mampu menyesuaikan diri baik secara struktural maupun fungsional (beradaptasi). Dalam hal ini, inovasi bisa melahirkan disorganisasi sosial dan pada gilirannya lebih menyulitkan terjadinya perubahan sosial.
Sebagai paradigma pembangunan yang dominan yang mulai dipertanyakan pada awal 1970 an, dan berbagai macam alternatif paradigma pembangunan tersebut diungkapkan, pentingnya keseimbangan sebagaimana pentingnya konsekuensi dari berbagai aktivitas difusi mulai direalisasikan. Pertama tujuan dari program difusi adalah menciptakan sesuatu yang baik dalam sebuah sistem; namun yang kedua dimensi dari sebuah konsekuensi apakah distribusi yang baik diantara para anggota sistem menjadi lebih seimbang atau kurang seimbang. Berbagai konsekuensi pengadopsian inovasi biasanya cenderung memperluas kesenjangan sosial ekonomi antara yang lebih awal mengadopsi dan lamban mengadosi berbagai katagori dalam suatu sistem. Selanjutnya, berbagai konsekuensi dari pengadopsian inovasi cenderung memperluas kesenjangan sosial ekonomi antara orang yang sebelumnya berada dalam status sosial ekonomi yang tinggi dan orang yang status sosial ekonominy rendah.
Struktur sistem sosial secara terpisah menentukan seimbang versus tidak seimbang dari sebuah konsekuensi inovasi. Ketika sebuah struktur sistem dalam keadaan yang begitu tidak seimbang, konsekuensi dari suatu inovasi (terutama jika inovasi tersebut berkenaan dengan biaya yang tinggi) akan membawa keadaan yang sangat tidak seimbang dalam bentuk kensenjangan sosial ekonomi yang lebih luas.
Strategi apakah yang dapat dipakai untuk memperkecil kesenjangan ? jawabannya tergantung pada tiga alasan utama mengapa kesenjangan sosial ekonomi meluas sebagai konsekuensi dari inovasi : (1) “yang di atas” memiliki akses informasi yang lebih banyak untuk menciptakan kesadaran mengenai inovasi; (2) mereka memiliki akses informasi yang lebih banyak mengenai evalasi inovasi dari teman sejawat; dan (3) “yang di atas” memiliki kurang lebih sumber daya untuk mengadopsi inovasi dari pada yang “di bawah.”
Ketika upaya-upaya yang khusus diciptakan oleh seorang agen difusi, hal tersebut mungkin untuk memperkecil, atau paling sedikit tidak memperluas, kesenjangan sosial ekonomi dalam sistem sosial. Dengan kata lain, berbagai kesenjangan yang melebar tidak terjadi.Satu peranan penting untuk penelitian difusi dimasa mendatang adalah mengungkapkan berbagai strategi yang lebih efektif untuk menciptakan keseimbangan diantara para anggota sistem sosial. Hal ini baru, sulit dan peranan yang menjanjikan untuk orang-orang yang mempelajari difusi.

3. Kesetaraan dalam Konsekuensi Inovasi
Umumnya salah satu cara yang dilakukan oleh agen perubahan dalam membentuk konsekuensi inovasi adalah dengan saling bekerjasama. Jika agen perubahan menghubungi orang yang lebih miskin dan berpendidikan rendah di masyarakat dari pada orang kaya, tentunya suatu inovasi akan lebih berarti/bermakna. Namun terkadang, biasanya agen perubahan lebih banyak menghubungi orang yang berpendidikan, memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat, dengan demikian hal tersebut cenderung untuk memperluas kesenjangan sosial ekonomi melalui inovasi-inovasi yang mereka memperkenalkan.
Difusi dan inovasi secara umum menyebabkan dalamnya  tingkat kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat. Meningkatnya ketidaksetaraan dalam konsekuensi inovasi disebabkan karena :
a.       Inovator dan pengadopsi awal memiliki sikap yang menguntungkan terhadap ide-ide baru dan mereka lebih cenderung mencari inovasi-inovasi secara aktif. Mereka juga memiliki sumber daya yang tersedia untuk menerapkan inovasi biaya yang lebih tinggi, sedangkan pengadopsi yang lain tidak.
b.      Agen-agen pembaharu professional cenderung memusatkan perhatian mereka pada kontak-kontak klien mereka pada innovator dan adopter awal dengan harapan bahwa pemimpin opini diantara katagori yang mengadopsi akan menyampaikan gagasan baru yang telah mereka ketahui kepada para pengikut mereka dengan proses yang merambat kebawah.
c.       Dengan mengadopsi inovasi relatif lebih awal daripada orang lain dalam sistem sosial, inovator dan pengadopsi awal memperoleh keuntungan, sehingga memperluas kesenjangan sosial-ekonomi antar kelompok sebelum mengadopsi. Jadi pengadopsi awal menjadi semakin kaya, bila dibandingkan dengan adaptor yang lainya.

Komunikasi Mempengaruhi Kesenjangan Sosial
Pengaruh yang timbul dengan adanya aktivitas komunikasi secara umum merubah pengetahuan, sikap atau perilaku seseorang. Komunikasi telah menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap individu lainnya.

Strategi untuk Memperkecil Kesenjangan
Adapun strategi yang dapat disusun berdasarkan alasan pokok tentang mengapa besarnya kesenjangan sosial ekonomi akibat dari pengadopsian suatu inovasi diantaranya adalah :
1.      “Kalangan Atas” memiliki kesempatan yang lebih besar dalam memperoleh informasi yang menumbuhkan kesadaran tentang inovasi daripada “Kalangan Bawah”
a)      Pesan-pesan yang berlebihan atau yang kurang menarik dan/atau kurang menguntungkan bagi audiens yang lebih tinggi sosial ekonominya, tetapi cocok dan menarik bagi audiens yang lebih rendah sosial ekonominya, dapat disediakan. Strategi ini memungkinkan audiens yang lebih rendah sosial ekonominya untuk menyusul. Strategi ini dipakai dan berhasil dalam memperkecil kesenjangan sosialekonomi di India melalui program TV bagi orang-orang desa.
b)      Seseorang dapat menyesuaikan pesan-pesan komunikasi terutama bagi audiens yang lebih rendah sosioekonominya dalam arti ciri-ciri yang khas, seperti pendidikan, kepercayaan, kebiasaan komunikasi dan sejenisnya. Bahan-bahan komunikasi sering tidak didesain secara khusus bagi derajat kalangan ini, dan oleh karena itu sering kurang efektif. Sungguhpun isi pokok dari pesan ini mungkin sama seperti bagi “Kalangan Atas”, untuk dapat lebih efektif dalam mencapai audiens yang lebih rendah sosioekonomiknya maka desain pesan, perlakuan dan presentasinya mungkin perlu berbeda; misalnya lebih banyak garis yang digambarkan, fotografi dan alat bantu visual yang lain yang mungki diperlukan disebabkan rendahnya pendidikan formal “Kalangan Bawah”.
c)      Seseorang dapat memgunakan saluran-saluran komunikasi yang secara khusus dapat menyelusuri “Kalangan Bawah” sehingga akses bukanlah halangan untuk memperoleh kesadaran pengetahuan akan inovasi. Misal; di Negara yang sedang berkembang persentase “Kalangan Bawah” yang tidak dapat membaca, maka media cetak tidak bermanfaat. “Kalangan Bawah” kemingkinan besar mengikuti siaran radio daripada menonton TV. Selain itu komunikasi tradisional dapat dilakukan seperti melalui pagelaran wayang, opera rakyat, bidan-bidan tradisional dan tempat berkumpul seperti pasar, tempat ibadah, warung dan kedai. Media komunikasi yang dapat dipercaya dan dapat diterima secara cultural khususnya sangat cocok bagi audiens yang lebih rendah tingkat sosioekonomiknya dibanyak Negara ( Rogers,1983 ).
d)     “Kalangan Bawah” dapat diorganisir dalam kelompok kecil dimana mereka dapat balajar tentang inovasi dan mendiskusikan ide baru. Seperti perkumpulan wanita di Korea, sekolah radiofonik di Amarika Latin, dan koperasi.
e)      Konsentrasi kontak para agen pembaharu dapat dipisahkan dari inovator dan adopter awal, yang juga telah dilakukan sebelumya terhadap mayoritas kemudian dan yang paling terlambat.
2.      “Kalangan Atas” memiliki kesempatan yang lebih besar bagi informasi  inovasi-evaluasi dari teman-teman dibandingkan dengan “Kalangan Bawah”
Jika teori “trickle-down” ( menetes kebawah ) beroperasi secara pasti, maka “Kalangan Bawah” akan segara cepat belajar dari “Kalangan Atas” dalam mengadopsi inovasi dan secara cepat mengikutinya. Tetapi realitas dari jaringan komunikasi dalam banyak system adalah bahwa “Kalangan Atas” berbicara dengan “Kalangan Atas” dan “Kalangan Bawah” dengan “Kalangan Bawah” ( Rolling dkk,1976 ). Bagaimana cara mengatasi masalah ini ?
a)      Pendapat pemuka di kalangan kelompok yang kurang beruntung dari suatu system dapat diidentifikasikan dan kontak agen pembaharu dapat dipusatkan pada mereka, jadi dapat mengingatkan teman-teman dalam hal inovasi.
b)      Pembantu-pembantu agen pembaharu yang dipilih dari "Kalangan Bawah” dapat dipakai untuk menghubungi teman-teman yang homofili tentang inovasi
c)      Kelompok-kelompok formal diantara “Kalangan Bawah” dapat diorganisir dengan memperlengkapi dengan kepemimpinan dan penguatan sosial dalam pengambilan keputusan inovasi mereka. Kelompok itu memberikan kekuatan politik, ekonomi dan sosial yang lebih besar.
3.          “Kalangan Atas” memiliki “slack resources” untuk mengadopsi inovasi dari pada “Kalangan Bawah”
“Kalangan Atas” selalu dapat mngadopsi inovasi, terutama jika ide baru itu mahal, secara teknologis kompleks, dan jika mereka memberikan derajat ekonomi. Strategi apa yang dapat membantu mengatasi tendensi pelebaran kesenjangan ini ?
a)      Prioritas dapat diberikan bagi pengembangan dan perekomendasian inovasi yang sesuai bagi “Kalangan Bawah” agar teknologi yang cocok  dapat diperoleh.
b)      Suatu organisasi dapat diadakan pada tingkat local agar “Kalangan Bawah” dapat memperoleh persamaan dengan “Kalangan Atas” dalam memiliki “Slack Resources” yang diperlukan untuk mengadopsi inovasi tertentu yang mahal.
c)      Suatu sarana harus diadakan agar supaya “Kalangan Bawah” dapat berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan program difusi, termasuk menyusun program. Strategi partisipasi ini dapat menjadikan kebutuhan dan masalah diketahui oleh para pengurus dalam suatu lembaga pembaharuan.
d)     Lembaga-lembaga pembaharu tertentu dapat dimantapkan untuk bekerja hanya dengan “Kalangan Bawah” dengan demikian memungkinkan agen pembaharu menemukan kebutuhan tertentu dari “Kalangan Bawah” (kredit pertanian).
e)      Tekanan harus digeser dari mendifusikan inovasi yang berasal dari Litbang Formal ke informasi yang menyebar tentang ide berdasarkan pengalaman melalui system difusi yang lebih didesentralisasikan.

3.      Konsekuensi Inovasi dalam Bidang Pendidikan
Penerapan inovasi dan teknologi pendidikan di Indonesia sudah cukup berkembang. Dalam bentuk sistem pendidikan, inovasi dan teknologi pada tataran ini menjangkau area kebijakan penyelenggaraan proses pendidikan.  Contoh dari pemanfaatan inovasi dan teknologi pelaksanaan sistem Cara Belajar Pelajar Aktif (CBSA), Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), atau penambahan jam belajar di sekolah. Pada tataran ini inovasi dan teknologi diterapkan secara massal karena mengarah pada sistem.
Selain itu di Indonesia juga mulai menerapkan Inovasi dan teknologi pada konsep pendidikan dan konsep belajar. Inovasi dan teknologi pada tataran ini menjangkau area konseptual pendidikan, misalnya konsep pendidikan yang membebaskan yang diungkapkan oleh Paul Freire, konsep Quantum Learning (Potter dan Hernacki, 2001), Accelerated Learning.
Penerapan inovasi dan teknologi pada media belajar dan mengajar menjangkau area yang lebih sempit, yaitu merujuk pada penyelenggaraan proses pendidikan berupa proses belajar mengajar di sekolah, Penerapan yang dilakukan adalah elaborasi hasil teknologi sebagai media belajar di sekolah, misalnya Computer Assisted Instruction (CAI), alat-alat canggih berupa audio visual, alat-alat permainan edukatif atau media cetak berupa buku-buku, serta pengadaan alat-alat laboratorium yang berkualitas.
Salah satu contoh konsekuensi inovasi dalam pendidikan adalah pemanfaatan sarana teknokogi informasi dalam bidang pendidikan. Ketika segelintir sekolah sudah masuk arena persaingan global dengan memanfaatkan inovasi teknologi, sebagian besar sekolah di Indonesia justru masih amat jauh dari akses teknologi informasi. Prasarana komputer di kebanyakan sekolah masih amat minim bahkan tidak ada. Guru-guru pun masih belum mempunyai kesempatan atau keberanian untuk menggunakan teknologi komputer dan internet. Tentu saja kesenjangan dalam aksebilitas antara siswa-siswa dari sekolah mampu dengan siswa-siswa dari sekolah miskin akan mengarah kepada persaingan yang tidak seimbang antara anak-anak bangsa. Sekali lagi, tarik ulur antara keunggulan dan pemerataan merupakan isu serius dalam penyusunan kebijakan pendidikan dan perencanaan anggaran pendidikan.
Implikasi lain dari inovasi teknologi adalah batasan antara pendidikan formal, informal, dan nonformal secara nyata akan menjadi kabur. Secara positif, ada amat banyak situs yang menawarkan program atau modul pembelajaran yang bisa diakses anak dengan mudah. Ruang belajar anak tidak lagi dibatasi empat dinding ruang kelas. Proses pembelajaran di dunia maya – yang kadang juga dimanfaatkan di segelintir sekolah – tidak mengenal batasan formal dan nonformal. Beberapa situs menyajikan program amat bermutu bagi pengembangan berbagai kompetensi anak.
Sebaliknya, ketika anak sudah bisa mengakses dunia maya, segala yang ada di situ akan bisa diakses anak termasuk situs-situs yang tidak sesuai dan bisa merusak anak. Padahal tidak banyak guru dan orang tua yang menguasai teknologi informasi cukup baik atau tidak punya cukup waktu untuk bisa mendampingi anak dan memberi pengarahan dalam penjelajahan ke dunia maya. Akibatnya, anak-anak menjadi rentan terhadap berbagai dampak negatif dari penyalahgunaan teknologi informasi.
Perubahan kurikulum atau metode pembelajaran yang terintegrasi dengan  Teknologi Informasi & Komunikasi dapat menjadi alternatif menjembatani guru dan siswa untuk lebih ramah dan sehat memanfaatkan teknologi.Namun pada kenyataannya, tidak selalu inovasi dapat diterima. Beberapa kasus menunjukkan pelaksana inovasi cenderung resisten terhadap inovasi.
Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:
a)      Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.
b)      Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Disamping itu sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) dimana guru tetap mempertahankan sistem yang ada.
c)      Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987:36) yang mengatakan bahwa "mismatch between teacher's intention and practice is important barrier to the success of the innovatory program".
d)     Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau finasial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
e)      Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.






PENUTUP
Kesimpulan
Konsekuensi adalah perubahan yang terjadi pada individu atau suatu sistem sosial sebagai hasil pengadopsian atau penolakan terhadap suatu inovasi. Konseksuensi dari pengadopsian sebuah inovasi yaitu berupa invensi (pembaharuan) dan difusi (perubahan) yang menjadi tujuan yang ingin dicapai. Ditinjau dari hasil inovasi yang diperoleh atau yang tampak dalam sistem sosial, konsekuensi inovasi dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu: Konsekuensi diharapkan dan tidak diharapkan, Konsekuensi langsung dan tidak langsung dan Konsekuensi diantisipasi dan tidak diantisipasi.
Salah satu contoh konsekuensi inovasi dalam pendidikan adalah pemanfaatan sarana teknokogi informasi dalam bidang pendidikan. Implikasi lain dari inovasi teknologi adalah batasan antara pendidikan formal, informal, dan nonformal secara nyata akan menjadi kabur. Secara positif, ada amat banyak situs yang menawarkan program atau modul pembelajaran yang bisa diakses anak dengan mudah. Ruang belajar anak tidak lagi dibatasi empat dinding ruang kelas. Proses pembelajaran di dunia maya – yang kadang juga dimanfaatkan di segelintir sekolah – tidak mengenal batasan formal dan nonformal. Beberapa situs menyajikan program amat bermutu bagi pengembangan berbagai kompetensi anak.
Sebaliknya, ketika anak sudah bisa mengakses dunia maya, segala yang ada di situ akan bisa diakses anak termasuk situs-situs yang tidak sesuai dan bisa merusak anak. Padahal tidak banyak guru dan orang tua yang menguasai teknologi informasi cukup baik atau tidak punya cukup waktu untuk bisa mendampingi anak dan memberi pengarahan dalam penjelajahan ke dunia maya. Akibatnya, anak-anak menjadi rentan terhadap berbagai dampak negatif dari penyalahgunaan teknologi informasi.



DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim. (1988) . Inovasi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dirjendikti
Rogers, Everett M. (1983) . Diffusion of innovations. New York: The Free Press.

Sa'ud, U. S. (2010). Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.


Rabu, 08 Mei 2013

JARINGAN DIFUSI INOVASI PENDIDIKAN


       I.                        PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang

Difusi inovasi merupakan langkah cerdas pemanfaatan jaringan sosial di masyarakat untuk selanjutnya terjadi adopsi inovasi sebagaimana yang dikehendaki oleh inovator. Inovasi dan perubahan merupakan dua kata yang tak terpisahkan. Dalam setiap inovasi terjadi perubahan, namun tidak semua perubahan disebut inovasi. Rogers (1983 : 11) menjelaskan, inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau objek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain. Kata "baru" bersifat sangat relatif, bisa karena seseorang baru mengetahui, atau bisa juga karena baru mau menerima meskipun sudah lama tahu.
Dalam prakteknya difusi inovasi tidak semudah memahami teorinya,sebab dalam difusi perlu adanya jaringan difusi yang membantu dalam menyebarkan sebuah inovasi. Jaringan difusi merupakan salah satu aspek yang dibutuhkan dalam sebuah inovasi dikarenakan tanpa adanya jariangan maka inovasi tersebut tidak akan berhasil sehingga dampaknya inovasi tersebut tidak berkembang.
Inovasi akan bermakna jika diterapkan atau diadopsi, sebab jika inovasi tersebut tidak diterapkan atau diadopsi maka inovasi tersebut hanya akan menjadi inovasi yang tidak berguna. Dalam upaya adopsi dikenal strategi sentralisasi dan strategi desentralisasi yang merupakan bagian dari jaringan difusi.
Manusia adalah makhluk sosial, dalam kehidupan sehari-hari saling membutuhkan dan karenanya terjadi komunikasi, saling mempengaruhi. Kualitas informasi ditentukan oleh konten dan cara menyampaikannya serta kecocokannya dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.  Jaringan ini tumbuh dan menjadi sistem sosial di masyarakat yang sangat bermanfaat untuk melakukan disfusi inovasi. Perubahan akan terus terjadi, namun perubahan yang diharapkan adalah yang sesuai dengan inovasi terutama di bidang pendidikan.  



B. Rumusan Masalah
      1.  Apa pengertian dari jaringan difusi ?
      2.  Bagaimana alur model komunikasi dalam jaringan difusi ?
C. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui :
  1. Pengertian dari jaringan difusi
  2. Alur model komunikasi dalam jaringan difusi

II. PEMBAHASAN
  1. Pengertian Jaringan Difusi
Jaringan dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa arti tergantung dalam konteks apa pengertian jaringan tersebut didefinisikan, misalnya jaringan bisa didefinisikan sebagai susunan sel khusus yang sama pada tubuh dan bersatu dalam menajalankan fungsi biologis tertentu. Didalam konteks lain pengertian jaringan bisa pula diartikan sebagai barang siratan yang berupa jaring atau dengan kata lain merupakan sinonim dari”jala-jala”. Arti jaringan yang lainnya adalah bagan yang menggambarkan tali temali kegiatan didalam suatu proyek dan sebagainya. Dalam istilah komunikasi definisi jaringan bisa berkaitan dengan sistem siaran yang terdiri dari sejumlah station radio yang dioperasikan oleh suatu organisasi induk dan yang sering menyiarkan program serupa pada waktu yang sama. Dengan demikian pengertian jaringan harus mengacu pada ruang lingkup apa? Agar definisinya bisa cocok dengan pokok pembicaraan.
Jaringan sosial adalah keterkaitan hubungan dan komunikasi antar individu dalam masyarakat yang disebabkan oleh berbagai kepentingan dan sebab. Jaringan sosial yang ada di masyarakat tersebut perlu dimanfaatkan sehingga menjadi jaringan difusi. Proses penyebaran informasi tentang inovasi sangat efektif jika didifusikan melalui saluran media massa. Namun untuk membujuk calon adopter agar segera membuat keputusan adopsi, peran media interpersonal menjadi lebih penting. Dalam tahapan yang disebut tahap persuasi itulah jaringan sosial yang ada dalam masyarakat sangat berguna bagi proses difusi inovasi.
  1. Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi dari bahasa Inggris communication, dari bahasa latin communicatus yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut.
Definisi komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang dan atau di antara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Definisi tersebut memberikan beberapa pengertian pokok yaitu komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan.

Terdapat  3 jenis komunikasi, yaitu : Komunikasi Formal, Informal, dan Non Formal. Komunikasi formal adalah suatu proses komunikasi yang bersifat resmi dan biasanya dilakukan di dalam lembaga formal melalui garis perintah atau sifatnya instruktif , berdasarkan struktur organisasi oleh pelaku yang berkomunikasi sebagai petugas organisasi dengan status masing - masing yang tujuannya menyampaikan pesan yang terkait dengan kepentingan dinas . Suatu komunikasi juga dapat dikatakan formal ketika komunikasi antara dua orang atau lebih yang ada pada suatu organisasi dilakukan berdasarkan prinsip - prinsip dan struktur organisasi .
Komunikasi Informal adalah komunikasi antara orang yang ada dalam suatu organisasi , akan tetapi tidak direncanakan atau tidak ditentukan dalam struktur organisasi . Fungsi komunikasi informal adalah untuk memelihara hubungan sosial persahabatan kelompok informal , penyebaran informasi yang bersifat pribadi dan privat seperti isu , gosip , atau rumor . Tentang komunikasi informal sebaiknya tidak dilakukan berdasarkan informasi yang masih belum jelas dan tidak akurat , carilah sumber informasi yang dapat dipercaya , selalu gunakan akal sehat dan bertindak berdasarkan pikiran yang positif .
Informasi dalam komunikasi informal biasanya timbul melalui rantai kerumunan di mana seseorang menerima informasi dan diteruskan kepada seseorang atau lebih dan seterusnya sehingga informasi tersebut tersebar ke berbagai kalangan . Implikasinya adalah kebenaran informasi tersebut menjadi tidak jelas atau kabur. Meski demikian komunikasi informal akan untuk memenuhi kebutuhan sosial, mempengaruhi orang lain dan mengatasi kelambatan komunikasi formal yang biasanya cenderung kaku dan harus melalui berbagai jalur terlebih dahulu .
Komunikasi Non Formal adalah proses komunikasi yang berada di antara yang formal atau resmi dengan yang tidak resmi atau informal . Komunikasi jenis ini biasanya berupa komunikasi yang berhubungan dengan hubungan pribadi.
Pengertian jaringan komunikasi menurut Rogers (1983) adalah suatu jaringan yang terdiri atas: individu-individu yang saling berhubungan, yang dilmbungkan oleh arus komunikasi yang terpola. Jaringan komunikasi adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orng ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, kelompok kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan mengembangkan pola komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jarngan komunikasi. Jaringan komunikasi ini kemudian merupakan sistim komunikasi umum yang akan digunakan oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang keorang lainnya. Kedua, jaringan komunikasi ini bias dipandang sebagai struktur yang diformalkan yang diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.

  1. Metode Jaringan Sosial
Ada beberapa metode utama yang dapat digunakan untuk meneliti jaringan sosial yang ada di masyarakat atau sistem sosial, yaitu dengan metode sosiometri dan dengan metode observasi.  Dengan metode sosiometri dapat diketahui hubungan antar individu dalam suatu sistem sosial. Dengan metode sosiometri dan juga dengan observasi partisipatoris dapat diketahui siapa saja individu-individu dalam suatu sistem sosial tersebut yang berperan sebagai pemimpin opini.
  1. Metode Sosiometri
Metode Sosiometri adalah suatu metode pengumpulan serta analisis data mengenai pilihan komunikasi dan pola interaksi antar individu dan kelompok. dapat dikatakan bahwa sosiometri adalah kajian dan pengukuran pilhan sosial, sosiometri disebut juga sebagai sarana untuk mengkaji "tarikan" (traction) dan "tolakan" (repulsion) anggota-anggota suatu kelompok.
Metoda sosiometri terdiri dari mencari adanya pertanyaan untuk responden (atau secara hipotetis masih mencari) untuk informasi atau tambahan tentang topik yang telah ditentukan, seperti halnya pada inovasi. Opini pemimpin bagi anggota suatu sistem diterima sebanyak-banyaknya menurut pilihan sosiometri (yang sering dilibatkan adalah jaringan yang jumlah mata rantainya paling banyak). Niscaya, teknik sociometri adalah ukuran opini pemimpin, karena terukur melalui para pengikutnya, bagaimanapun hal itu mengharuskan pertanyaan pada sejumlah besar responden dalam rangka menempatkan sejumlah kecil opini pemimpin. Dan metoda sociometri adalah yang paling sering digunakan untuk disain sampling di mana semua anggota sistem sosial diwawancarai, sedangkan sampel kecil di dalam suatu populasi besar dihubungi.
Hal yang umum untuk menetapkan banyaknya pasangan sosiometri yang disebut dengan responden; sebagai contoh, " yang ke tiga ( atau empat, atau lima) wanita di desa ini yang sudah anda berikan penjelasan tentang metode keluarga berencana?". Pada pertanyaan seperti itu pilihan jawaban tidak dibatasi , pertanyaan pada responden untuk hanya untuk menyebutkan mitra jaringan paling kuat. Mungkin yang lain lebih sedikit untuk bisa bertukar informasi jika responden mempersulit untuk tidak menerima inovasi.
  1. Metode Observasi
Alat  untuk mengukur opini pemimpin adalah observasi, di mana peneliti mengidentifikasi dan mencatat perilaku komunikasi dalam suatu sistem. Satu keuntungan observasi adalah pada umumnya data mempunyai tingkat validitas yang tinggi. Jika mata rantai jaringan dengan baik diobservasi, ada setidaknya keraguan tentang apakah mereka dikutsertakan atau tidak. Pengamatan kerja terbaik pada sistem sangat kecil, di mana peninjau benar-benar dapat melihat dan merekam terjadinya interaksi hubungan antar pribadi. Sangat disayangkan, dalam sestem yang sedemikian kecil, teknik perpindahan-data sangat ditonjolkan dalam observasi ini. Sebab anggota suatu sistem mengetahui bahwa mereka diamati, mereka boleh bertindak dengan cara yang berbeda.Lebih lanjut, peninjau perlu mengamati dengan sabar, jika perilaku difusi jaringan yang ia ingin observasi ternyata jarang.  Dalam praktek, pengamatan, jarang digunakan ukuran difusi jaringan dan opini pemimpin.
Alat pengukuran paling populer adalah survei sosiometri. Ketika dua atau tiga jenis praktek opini pemimpin telah digunakan pada responden yang sama, korelasi positif pada ukuran telah diperoleh, walaupun hubungan ini sangat sedikit dibanding sempurna, ini menemukan pada kenyaat bahwa pilihan tentang segala sesuatu pada empat metode boleh jadi didasarkan pada kenyamanan, adanya keempat ukuran itu sama-sama valid.

  1. Alur model Komunikasi Dalam jaringan difusi.
Alur model komunikasi dalam jaringan difusi, secara umum terbagi menjadi dua macam:  
1.       The hypodermic Needle Model,
Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen dan mudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang. Media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat. Khalayak dianggap pasif  terhadap pesan media yang disampaikan. Teori ini dikenal juga dengan teori peluru, bila komunikator dalam hal ini media massa menembakan peluru yakni pesan kepada khalayak, dengan mudah khalayak menerima pesan yang disampaikan media.
Model ‘jarum hipodermik’ di mana secara postulat, media massa mempunyai pengaruh langsung, segera dan kuat pada individu-individu yang terkait dengan media massa, tapi tidak terkait satu dengan lainnya. Media masa di tahun 1940 dan 1950 dipersepsikan memiliki pegaruh yang kuat untuk merubah tingkah laku (behavior). Kedahsyatan media digambarkan sebagai pembawa pesan  untuk mengurai masa dari para individu (Katz and lazarsfeld). Kesimpulan tentang kekuatan media masa digambarkan dari beberapa peristiwa.
Teori ini makin powerfull ketika siaran radio Orson Welles (1938) menyiarkan tentang invansi makhluk dari planet mars menyebabkan ribuan orang di Amerika Serikat panik. Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari audience.
Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic needle (teori jarum suntik), Bullet Theory (teori peluru) transmition belt theory (teori sabuk transmisi). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat kita tarik satu makna , yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.

2.       The two-step Flow Model
Pesan mengalir dari sumber via media massa ke pemimpin opini yang pada gilirannya menyampaikannya pada para pengikutnya. The first step, from media sources to opinion leaders, is mainly transfer of information, whereas the second step from opinion leaders to their followers, also involves the spread of interpersonal influence.  
Menurut teori Granovetter, individu cenderung terkait dengan orang yang secara fisik dekat dan menurut atribut-atribut seperti kepercayaan, pendidikan dan status sosial relatif sama (homofili; kontras dengan heterofili di mana atribut-atribut tersebut relatif beda). Duff dan Liu (1975) menyatakan bahwa dalam satu network komunikasi, pertukaran informasi dari satu clique (yang ditandai dengan promiximitas komunikasi tinggi) ke clique lain dijembatani oleh proximitas komunikasi rendah yang heterofili (misal, dari clique berstatus sosial tinggi ke clique berstatus sosial lebih rendah).
Model komunikasi dua tahap (two step flow of communication)
Sumber - Komunikasi - Pesan - Media Massa - Opinion Leader - komunikan. Dalam model, ketika pesan disampaikan oleh sumber atau media massa terjadi proses komunikasi massa. Tapi ternyata tidak semua orang memahami isi pesan yang disampaikan dan mempunyai akses ke media massa. Dalam model ini kemudian dikenal adanya opinion leader atau pemuka pendapat. Pemuka pendapat adalah orang yang memahami lebih isi pesan media massa, atau orang yang mempunyai akses yang lebih besar ke media massa dibandingkan dengan individu lain. Proses pertama, seperti yang dijelaskan sebelumnya, adalah proses komunikasi massa dan proses kedua dari opinion leader ke khalayak umum adalah proses komunikasi interpersonal.
Beberapa temuan lainnya ialah (a) Dalam network heterofili, pengikut cenderung mencari pemimpin opini yang mempunyai status sosial, pendidikan, ekspose ke media massa, tingkat keinovatifan, tingkat kekosmopolitan dan tingkat kontak dengan agen perubahan lebih tinggi, (b) pemimpin opini lebih sejalan dengan norma sistem dibanding dengan pengikutnya, (c) pemimpin opini dapat dibedakan menjadi polimorfis (mempunyai opini dalam banyak bidang) atau monomorfis (mempunyai opini hanya dalam satu bidang), dan (d) network personal radial (dari satu ke banyak orang) lebih penting untuk inovasi dibanding dengan network interlocking di mana individu saling berinteraksi.
a.      Homofili dan Heterofili
Prinsip pokok komunikasi antar manusia adalah bahwa pengalihan (transfer) ide yang umumnya terjadi antara dua orang yang sepadan atau homofilus. Homofili ada­lah sejauh mana orang yang berinteraksi itu ada kemiripan dalam ciri - ciri tertentu, seperti kepercayaannya, pendidikannya, status sosialnya, dan lainnya. Dalam suatu situasi yang bisa memilih, bila seseorang dapat berinteraksi dengan siapa saja yang dikehendaki, ada kecenderungan kuat orang akan memilih berkomunikasi dengan orang yang paling sepadan dengan dirinya. Banyak alasan berkait dengan prinsip homofili. Orang yang punya ke ­miripan satu sama lain biasanya menjadi anggota kelompok yang sama, tinggal dan bekerja di tempat yang berdekatan, dan memiliki minat yang sama. Kedekatan fisik dan sosial seperti itu memungkinkan terjadinya komunikasi yang homofilus. Komunikasi semacam itu mungkin lebih efektif, karena mengasyikkan. Kemung­kinan lebih efektif terjadi bila dua orang yang berkomunikasi itu homofilus (se­padan). Karena mereka bertukar istilah yang saling mereka mengerti, mengguna ­kan bahasa daerah, dan memiliki sifat?sifat pribadi dan sosial yang mirip. Ide mungkin mempunyai efek yang lebih besar dalam arti perole­han pengetahuan, pembentukan dan perubahan sikap, dan perubahan perilaku nyata. Bila ada kesepadanan, komunikasi antara dua orang mungkin akan lebih mengasyikkan.
Salah satu masalah penting dalam berkomunikasi inovasi adalah biasanya partisipannya sangat heterofilius. Agen pembaru umumnya secara teknis lebih kompeten daripada kliennya. Perbedaan ini seringkali membawa pada komunikasi yang tidak efektif. Mereka tidak berbicara dengan “bahasa” yang sama. Memang, bila dua orang identik pemahaman dan pengalamannya tentang inovasi, akan tidak terjadi difusi dalam interaksi mereka sebab tidak ada informasi baru yang dipertukarkan. Sifat difusi menuntut setidak-tidaknya ada beberapa tingkat heterofili antara dua orang yang berkomunikasi. Idealnya, agen pembaru dan kliennya sepadan (homofili) dalam variabel?variabel lain (misalnya pendidikan, status sosial, dan sebagainya) tetapi heterofili dalam hal inovasi. Biasanya heterofili yang terjadi pada dua orang yang terlibat dalam komunikasi inovasi menyangkut semua aspek, karena pengetahuan dan pengalaman tentang inovasi tersebut berkaitan erat dengan status sosial, pendidikan dan sebagainya.
Kebanyakan orang meyukai keindahan berinteraksi dengan orang lain yang sangat mirip dengannya.  Berbincang dengan orang yang sangat berbada dengan diri kita sendiri memerlukan usaha keras agar komunikasi itu lancar. Komunikasi yang heterofilus bisa menyebabkan ketakserasian pandangan karena seseorang dihadapkan pada pesan -pesan yang tidak cocok dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada, menyebabkan keadaan psikolgis yang tidak baik. Homofili dan komunikasi yang efektif itu saling mendukung. Semakin sering terjadi komunikasi antara anggota suatu pasangan,semakin cenderung mereka menjadi homofilus,semakin homofilus mereka semakin besar kemungkinan komunikasi mereka efektif.Orang-Orang yang menerobos batas–batas homofili dan berusah berkomunikasi tetapi komunikasi heterofilus punya kelebihan berupa kesanggupan informasi khusus.

III.             PENUTUP
  1. KESIMPULAN
Pada jaringan difusi metode utama yang dapat digunakan untuk meneliti jaringan sosial yang ada di masyarakat atau sistem sosial, yaitu dengan metode sosiometri dan dengan metode observasi. Alur model komunikasi dalam jaringan difusi, secara umum terbagi menjadi dua macam yaitu :  Hypodermic Needle Model yaitu Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang. Media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat. Khalayak dianggap pasif  terhadap pesan media yang disampaikan. The two-step Flow Model yaitu model komunikasi dua tahap (two step flow of communication) Sumber - Komunikasi - Pesan - Media Massa - Opinion Leader - komunikan. Dalam model, ketika pesan disampaikan oleh sumber atau media massa terjadi proses komunikasi massa.





REFERENSI

                        Purwanto (2000), Difusi inovasi , Jakarta :STIA LAN
            Udin , Syaefudin Sa’ud2011) Inovasi Pendidikan Bandung : Alfabeta CV
 Rogers, Everet M Rogers.2003.Diffusion of Innovation New York : Free Press
Rogers, Everet M. 1983. Diffusion of Innovations 3th ed.  New York: The Free Press, Macmillan Publishing Co., Inc.
            Sumber : http//pepyteknokra.wordpress.com/2013/05/06/model-komunikasi/
            Sumber : http//jurusankomunikasi.blogspot.com/2013/05/06/model-komunikasi-menurut-para-ahli.html