Minggu, 05 Mei 2013

PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN AUSTRALIA DAN INDONESIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Australia adalah satu-satunya benua di dunia yang hanya terdiri dari satu buah negara, yang juga disebut dengan Australia. Meski demikian, Australia memiliki 6 negara bagian serta 2 wilayah daratan (territori) yang mulai dikonstitusikan pada tanggal 1 Januari 1901. Keenam negara bagian tersebut antara lain adalah New South Wales (Ibukota: Sydney), Victoria (Ibukota: Melbourne), Queensland (Ibukota: Brisbane), Australia Selatan (Ibukota: Adelaide), Australia Barat (Ibukota: Perth), dan Tasmania (Ibukota: Hobart). Sedangkan kedua territornya adalah Northern Territory dan Australian Capital Territory. Ibukota negara Australia sendiri adalah Canberra.
Negara bagian dikepalai oleh seorang gubernur, sedangkan teritori dikepalai oleh seorang administrator. Pemerintah pusat memiliki wewenang yang lebih banyak pada sebuah teritori bila dibandingkan dengan pada negara bagian.
Australia dikenal oleh dunia sebagai tempat yang nyaman dan sehat untuk ditinggali. Penduduk di Australia ramah, udaranya bersih, lingkungan aman, fasilitas transportasi yang bagus, serta tunjangan pendidikan dan kesehatan berkelas internasional membuat Australia menjadi tempat yang bagus untuk ditinggali. Beberapa kota seperti Sydney, Melborune, Perth, dan Adelaide merupakan kota-kota yang bagus dan nyaman.
Pendidikan di Australia juga sangat bagus. Di tempat ini, Australia konon memiliki kualitas pendidikan yang tinggi, dan bahkan gelar atau ijasahnya pun diakui secara internasional. Selain itu, biaya pendidikan di Australia tergolong murah dan terjangkau bila dibandingkan dengan Inggris atau Amerika, bahkan pemerintah memberikan ijin bagi mahasiswa yang berasal dari luar Australia untuk bekerja baik fulltime maupun partime untuk memenuhi biaya pendidikan mereka. Australia juga menawarkan program studi yang sangat bervariasi, baik jurusan maupun jenjangnya. Hal ini mempermudah siswa dalam mencari sekolah yang sesuai dengan keinginannya.
Dengan begitu banyaknya kelebihan Australia di bidang pendidikan, maka ada baiknya Indonesia sedikit berkaca dari sistem pendidikan di Australia itu sendiri. Maka dari itulah, penulis  ingin membandingkan sistem pendidikan di Australia dan Indonesia, agar dapat diambil manfaat yang baik untuk kemajuan bangsa Indonesia.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah sistem pendidikan di Australia?
2.      Bagaimanakah sistem pendidikan di Indonesia?
3.      Bagaimana perbandingan sistem pendidikan di Australia dan Indonesia?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui bagaimanakah sistem pendidikan di Australia.
2.      Untuk mengetahui bagaimanakah sistem pendidikan di Indonesia.
3.      Untuk mengetahui bagaimana perbandingan sistem pendidikan di Australia dan Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN

Australia adalah masyarakat yang stabil, berkebudayaan majemuk dan demokratis disertai dengan angkatan kerja yang terampil dan ekonomi yang kuat dan berdaya saing. Dengan penduduk lebih dari 21 juta, Australia adalah satu-satunya bangsa yang memerintah seluruh benua dan negara dengan wilayah daratan terluas keenam di dunia. Masyarakat multikultural Australia mencakup penduduk Asli dan pendatang dari sekitar 200 negara.
Australia adalah salah satu massa daratan tertua di dunia dan telah berpenghuni manusia sekitar 60.000 tahun. Sebelum kehadiran pendatang Eropa, penduduk Aborijin dan Penduduk Kepulauan Selat Torres mendiami sebagian besar wilayah benua. Sejarah kontemporer Australia secara relatif singkat, dengan pemukiman Eropa pertama didirikan oleh Inggris Raya pada 26 Januari 1788.
Australia memiliki 10 persen keanekaragaman hayati dunia dan sejumlah besar tanaman, hewan dan burung asli tidak ada di lain tempat di dunia. Australia bertekad melestarikan warisan alam dan lingkungan hidupnya yang unik dan memiliki sejumlah prosedur perlindungan, termasuk pencatatan dalam Warisan Dunia dan banyak taman nasional dan perlindungan kehidupan liar.
Australia adalah salah satu ekonomi yang paling berdaya tahan, berpertumbuhan tinggi di dunia. Australia memiliki sektor pemerintah yang efisien, pasar buruh yang luwes dan sektor bisnis yang berdaya saing tinggi.
Dengan sumber daya alam yang melimpah, Australia memiliki standar hidup yang tinggi sejak abad ke 19. Australia telah melakukan investasi besar dalam infrastruktur sosial, termasuk pendidikan, pelatihan, kesehatan dan transportasi. Angkatan kerja Australia yang berjumlah sekitar 10 juta sangat terlatih. Banyak manajer senior dan staf teknik memiliki pengalaman internasional, sementara hampir setengah angkatan kerja Australia memiliki kualifikasi universitas, kejuruan atau diploma.
Dalam ekonomi global, keterampilan bahasa merupakan kemampuan penting bagi angkatan kerja. Walaupun Australia adalah negara yang resmi menggunakan bahasa Inggris, lebih dari 5 juta penduduknya berbicara bahasa kedua.
Australia menawarkan pengenalan budaya bisnis Barat dengan angkatan kerja yang mampu beroperasi dalam kedua lingkungan bisnis Asia dan Barat, karena Australia memiliki sejumlah besar ketrampilan bahasa Asia di kawasan.
Keterampilan bahasa dan kemampuan-kemampuan lain yang menarik perusahaan asing sebagian merupakan hasil dari masyarakat Australia yang majemuk secara budaya.
Para migran memiliki pengaruh yang nyata pada semua aspek masyarakat Australia. Selama lebih dari 60 tahun migrasi terencana pasca-perang, Australia telah menerima lebih dari 6,5 juta migran dari lebih 200 negara, termasuk lebih dari 660.000 pengungsi. Penduduk Australia telah meningkat dari sekitar tujuh juta menjadi lebih dari 21 juta.
Sistem pendidikan Australia berstandar tertinggi dan diakui internasional. Sekolah adalah wajib di seluruh Australia, yang memberikan sumbangsih pada tingkat melek huruf 99 persen. Sekolah-sekolah di Australia mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri para pelajar. Lulusan universitas Australia unggul pada penelitian dan inovasi terdepan, serta pendidikan kejuruan dan teknik memajukan sektor industri yang sedang berkembang pesat.
Australia juga salah satu penyelenggara pendidikan dan pelatihan terdepan di dunia bagi pelajar internasional, termasuk pelatihan bahasa Inggris. Lebih dari 400,000 pelajar dari sekitar 200 negara menerima pendidikan Australia setiap tahun. Kursus ditawarkan baik di Australia maupun di luar negeri.
Sistem pendidikan dan pelatihan Australia tunduk pada pengkajian ulang dan kendali berkelanjutan dari pemerintah, industri dan badan-badan profesional untuk mempertahankan dan meningkatkan standarnya yang sudah tinggi. Jaminan mutu di pendidikan tinggi Australia berdasarkan pada kemitraan kukuh antara sektor pendidikan tinggi dan Pemeritah Australia, pemeritah negara bagian dan teritori. Kemitraan ini menjamin standar yang konsisten secara nasional dalam pemberian persetujuan dan akreditasi, pengawasan luar dan audit mutu independen.

A.    Sistem Pendidikan di Australia
Pendidikan di Australia tidak dipegang oleh pemerintah pusat, namun diserahkan pada setiap negara bagian atau teritorinya. Jadi, setiap negara bagian memiliki hak untuk menyelenggarakan pendidikan yang berbeda-beda. Hal ini berdasarkan pada konstitusi Australia, dimana  pendidikan merupakan tanggungjawab negara bagian. Pada setiap negara bagian, seorang Menteri Pendidikan dengan sebuah departemen pendidikan melaksanakan pendidikan dasar dan menengah, dan adakalanya juga pendidikan prasekolah. Sehingga, masing-masing negara bagian dan wilayah daratan mempunyai otoritas sendiri dalam pelaksanaan pendidikannya.
Menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan dalam Pasal 1 Ayat 8 bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Dilihat dari jenjang pendidikan formal, Australia terdiri dari 3 tahapan pendidikan, yaitu pendidikan dasar (primary schools), pendidikan menengah (secondary education, meliputi secondary school/high schools), dan pendidikan tinggi (tertiary education in universties or TAFE [techical and further education] college). Ada kalanya, sebelum memasuki primary school, peserta didik memasuki kindergarten atau taman kanak-kanak.
Di Australia, pendidikan dasar menjadi dasar untuk memasuki jenjang selanjutnya, yaitu pendidikan menengah. Pendidikan menengah merupakan lanjutan dari pendidikan dasar. Tahapan terakhir adalah pendidikan tinggi, yang mencakup beberapa program, yaitu diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Lama pendidikan untuk masing-masing jenjang tersebut berbeda antarnegara bagian. Perbedaanya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

1.      Wilayah New South Wales, Victoria, Tasmania, dan Australian Capital Territory
Jenjang Pendidikan
Lama Pendidikan
Pendidikan Dasar
Primary School
6 tahun
Pendidikan Menengah
Junior Secondary School
4 tahun
Senior High School
2 tahun

2.      Wilayah Queensland, Australia Selatan, Australia Barat, Northern Territory
Jenjang Pendidikan
Lama Pendidikan
Pendidikan Dasar
Primary School
7 tahun
Pendidikan Menengah
Junior Secondary School
3 tahun
Senior High School
2 tahun

Pendidikan di Australia, mewajibkan peserta didik untuk menempuh wajib belajar, yaitu pada jenjang primary school (SD) dan junior secondary school (SMP). Sehingga, wajib belajar di Australia yakni 10 tahun. Selanjutnya, peserta didik dapat masuk ke senior high school. Istilah yang dilakukan untuk jenjang pendidikan di Australia adalah year 1 – 12 (dari jenjang primary school hingga high school).
Pada jenjang senior high school, setiap peserta didik memiliki kewajiban untuk memilih program pendidikan kejuruan atau pendidikan umum. Pendidikan kejuruan diarahkan untuk pasar kerja, artinya lulusan pendidikan kejuruan tersebut akan siap untuk bekerja setelah lulus. Setiap negara bagian memiliki Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan (Vocational Education and Training atau VET). VET mempersiapkan peserta didik untuk bekerja tanpa perlu mendapatkan gelar sarjana.
Untuk peserta didik yang mengambil pendidikan umum, dapat meneruskan pendidikan ke jenjang diploma, bachelor degree, dst. Berikut adalah kualifikasi kerangka kualifikasi Australia (AQF atau Australian Qualification Framework) menurut sector pendidikan.

Australian Qualification Framework

Sektor Sekolah
Sektor Vocational Education And Training (VET)
Sektor Perguruan Tinggi
Senior Secondary Certificate of Education (Ijazah Sekolah Menengah Atas)
(2–3 tahun)
Vocational graduate diploma (Diploma Kejuruan)
(1 tahun)
Gelar doktor (3+ tahun)
VET di Sekolah
Vocational graduate certificate (Sertifikat Kejuruan)
(6 bulan)
Gelar Masters / Magister
(1–3 tahun)
 
Advanced diploma (Diploma Lanjutan)
(6–12 bulan)
Graduate diploma
(1 tahun)
 
Diploma
(1 tahun)
Graduate certificate
(6 bulan)
 
Sertifikat IV
(1 tahun)
Bachelor degree (Gelar Sarjana Muda)
(3 tahun)
 
Sertifikat III
(6 bulan)
Associate degree, advanced diploma
(1,5 tahun)
 
Sertifikat II
(6 bulan)
Diploma
(1 tahun)
 
Sertifikat I
(6 bulan)
 

Untuk gelar yang didapatkan setelah menempuh perguruan tinggi adalah:
·         Bachelors degree (setingkat sarjana S1)
·         Masters degree (setingkat magister S2)
·         PhD (setingkat doktor S3)
Untuk tes bagi siswa yang berlaku secara nasional, Australia menyelenggarakan NAPLAN (National Assessment Program-Literacy and Numeracy). Setiap tahunnya, semua siswa yang berada pada tahun 3, 5, 7, dan 9 melakukan tes pada hari yang sama. Materi tes tersebut meliputi membaca, menulis, bahasa (mengeja, tata bahasa, dan pemberian tanda baca), dan perhitungan.

B.     Sistem Pendidikan di Indonesia
Dalam undang - undang Sisdiknas tahun 2003 disebutkan bahwa, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003, jenjang pendidikan di Indonesia ada 3 yaitu :
1)      Pendidikan dasar;
2)      Pendidikan menengah;
3)      Pendidikan tinggi.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam, yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.
Di Indonesia, jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan di Indonesia mengenal tiga jenjang pendidikan, yaitu pendidikan dasar (SD/MI/Paket A dan SLTP/MTs/Paket B), pendidikan menengah (SMU, SMK), dan pendidikan tinggi. Meski tidak termasuk dalam jenjang pendidikan, terdapat pula pendidikan anak usia dini, pendidikan yang diberikan sebelum memasuki pendidikan dasar.
A.    Pendidikan Dasar
Pendidikan ini merupakan pendidikan awal selama 9 tahun pertama masa sekolah anak-anak, yaitu di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa ini para siswa mempelajari bidang-bidang studi antara lain: - Ilmu Pengetahuan Alam - Matematika - Ilmu Pengetahuan Sosial - Bahasa Indonesia - Bahasa Inggris - Pendidikan Seni - Pendidikan Olahraga. Di akhir masa pendidikan di SD, para siswa harus mengikuti dan lulus dari Ujian Nasional (UN) untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke SMP dengan lama pendidikan 3 tahun.
Pendidikan Dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan MAdrasah Ibtidayah (MI) atau bentuk yang sederajatserta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Akhir kelas enam siswa harus mengikuti Ujian Nasional sebagai syarat untuk mengikuti SMP/MTs.
B.   Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar, terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. 
C.   Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Jenjang pendidikan tinggi di Indonesia terdiri dari beberapa macam dimana, pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, special dan doctor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi (UU, Sisdiknas, pasal 19:2003) Perguruan tinggi dapat berbentuk :
1)      Akademi (lembaga pendidikan tinggi, kurang lebih 3 tahun lamanya, yg mendidik tenaga profesional;
2)      Politeknik (pendidikan professional yang diarahkan pada kesiapan penerapan keahlian tertentu);
3)      Sekolah tinggi (menyelenggarakan pendidikan akademik dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan);
4)      Institut (organisasi, badan, atau perkumpulan yg ber-tujuan melakukan suatu penyelidikan ilmiah);
5)      Universitas (perguruan tinggi yg terdiri atas sejumlah fakultas yg menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan/atau profesional dl sejumlah disiplin ilmu tertentu).
Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi dan vokasi (UU, Sisdiknas, pasal 20:2003). Kerangka dasar dan kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi. Dimana kurikulum pendidikan tinggi wajib memuatkan pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan bahasa.
Berbeda dengan sekolah menengah, perguruan tinggi menerapkan sistem kredit semester (SKS). Di perguruan tinggi, seorang mahasiswa jika dapat menghabiskan jumlah kredit mata kuliah yang ditargetkan dan dapat menempuhnya dalam waktu tertentu sesuai dengan rencana yang diprogramkan, mahasiswa tersebut dapat menyelesaikan pendidikan tinggi Strata 1 (S1) dalam waktu 4 tahun. Namun bila tidak sanggup karena banyak mengulang mata kuliah yang rendah nilainya atau karena cuti, waktu yang ditempuh untuk diwisuda sebagai seorang sarjana bisa lebih dari 4 tahun. Kalau ia berhasil wisuda dan berniat melanjutkan studi lanjut, masih ada dua tahap dalam pendidikan tinggi yang dapat ditempuhnya, yaitu jenjang S2 atau Magister yang normalnya ditempuh selama 2 tahun, dan jenjang Ssedangkan S3 atau doctor yang efektifnya ditempuh selama 2 tahun, sedangkan sisanya untuk penelitian. Apabila seluruh tahap pendidikan tinggi ini ditempuh, diberi gelar doctor untuk bidang yang dipilihnya.
C.    Perbandingkan Pendidikan di Australia dan Indonesia

NO
AUSTRALIA

INDONESIA

New South Wales, Victoria, Tasmania, dan Australian Capital Territory
Queensland, Australia Selatan, Australia Barat, Northern Territory


1

Primary School (6 Tahun)

Junior Secondary School (4 tahun)

Primary School (7 Tahun)


Junior Secondary School (3 Tahun)

Pendidikan dasar  9 tahun (SD 6 Tahun dan SMP 3  Tahun)


2.
Senior High School (2 Tahun)
Senior High School (2 Tahun)
Pendidikan Menengah  3 tahun (SMA, MA, SMK, dan MAK )

3.

Diploma
(1 tahun)

Associate degree, advanced diploma
(1,5 tahun)

Bachelor degree (Gelar Sarjana Muda)
(3 tahun)

Graduate certificate
(6 bulan)

Graduate diploma
(1 tahun)

Gelar Masters / Magister
(1–3 tahun)

Gelar doktor (3+ tahun)


Ahli Madya, Diploma 3 (D3)


Sarjana, Diploma 4 (D4)


Sarjana, Strata 1 (S1)



Magister, Strata 2 (S2)

Doktor, Strata 3 (S3)








Selain dari jenjang pendidikan, beberapa perbandingan dari pendidikan yang ada di Australia dan Indonesia antara lain adalah:
Pertama, dilihat dari bobot dan tingkat kesulitan materi pelajaran, standar pendidikan dasar di Indonesia jauh lebih tinggi. Jika di Indonesia, siswa-siswa kelas dua SD sudah mendapatkan banyak pelajaran dan berbagai pekerjaan rumah serta ulangan atau ujian, tetapi siswa-siswa setaraf kelas 1 – 2 SD di Australia belum diwajibkan untuk membaca. Bahkan di Indonesia, siswa TK nol besar diwajibkan lancar membaca dan berhitung, apalagi jika orangtua mereka berniat mendaftarkan mereka ke Sekolah Dasar unggulan yang diwajibkan mereka lolos ujian tulis sebagai syarat pendaftaran masuk. Sungguh berbeda sekali dengan di negeri yang terkenal dengan binatang kangguru ini. Pendidikan di TK seperti istana bermain dimana mereka bebas bermain, mengembangkan kreatifitas dan bersosialisasi. Pendidikan dasar di Australia lebih ditekankan sebagai pondasi untuk belajar mengenal diri sendiri, lingkungan serta pengembangkan sikap (character building). Mengajarkan hal-hal sederhana secara praktis lebih ditekankan dibanding teori-teori di kelas. Karena itu, tidak heran jika di Australia, sering terlihat siswa-siswa SD yang sedang belajar mengukur kepadatan mobil di jalan raya atau di lain waktu mereka tengah melakukan kegiatan di luar kelas (excursion), seperti ke pasar, perkebunan, peternakan kadang mereka belajar juga mengantri, melakukan transaksi jual beli dan sebagainya. Sebuah pengajaran yang aplikatif serta bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, dalam hal penilaian (assessment). Berbeda dengan di Indonesia yang mewajibkan para siswa untuk menempuh ulangan-ulangan sebagai persyaratan untuk naik kelas. Di Australia tidak ada siswa yang tidak naik kelas. Memang ada ujian nasional seperti UAN di Indonesia, yaitu tes standar nasional dikenal dengan istilah NAPLAN (National Assessment Program Literacy and Numeracy) yaitu tes nasional yang dilakukan serentak di Australia untuk menguji kemampuan membaca, menulis dan berhitung sebagai persiapan memasuki Year 10 (setara dengan kelas I SMU).
Walaupun standar materi pelajaran untuk pendidikan dasar di Indonesia tampak jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Australia, namun ketika memasuki tingkat perguruan tinggi, tampak negeri kita lebih tertinggal dibandingkan Australia. Selain disebabkan karena peralatan teknologi yang lebih canggih dan lengkap, fasilitas-fasilitas penelitian yang lebih memadai, juga faktor mahasiswa yang telah memiliki pengembangan karakter (character building) yang kuat, fondasi sikap yag tertanam sejak dini di pendidikan dasar sangat mempengaruhi kesuksesan masa depan mereka, seperti kemandirian, jujur, kreatif, inovatif, serta berpikir kritis (critical thinking).
Ketiga, pemberian reward (penghargaan) terhadap usaha siswa sangat dijunjung tinggi, baik dalam bentuk verbal maupun non-verbal seperti ucapan pujian ‘well done’, ‘excellent’, dsb. Yang lebih menarik lagi di SD, setiap ada siswa yang berbuat baik atau melakukan usaha keras, mempunyai keberanian yang positif, akan memperoleh reward berupa sertifikat-sertifikat kecil (school rewards) yang nanti jika telah terkumpul sepuluh sertifikat, akan diumumkan di acara assembly, yaitu acara yang diselenggarakan tiap dua minggu sekali untuk pengembangan bakat seni para siswa. Di acara tersebut, masing-masing kelas menampilkan kreatifitas seperti menyanyi, menari, drama, dsb. Hal yang istimewa lagi, pada school awards juga ditulis hal-hal baik yang telah dilakukan anak didik, seperti menolong teman yang jatuh, berani berbicara di depan kelas, jujur, empati, dan perilaku positif lainnya yang dilakukan siswa. Di sinilah terlihat betapa pengembangan karakter (character building) dan kecerdasan emosi (emotional equvalence) sangat ditekankan dalam pendidikan dasar. Penghargaan dan feedback yang positif ini juga tertulis di dalam raport siswa. Jadi penilaian pada rapost siswa di Australia adalah berbentuk narasi, bukan dalam bentuk angka-angka seperti pada sekolah di Indonesia.
Keempat, suasana belajar di sekolah-sekolah dasar di Australia terlihat sangat kondusif. Beberapa hal yang menunjang proses pembelajaran adalah jumlah siswa di dalam kelas yang tak lebih dari 20 siswa, media, kumpulan portofolio, dan alat-alat peraga pembelajaran yang lengkap, dinding kelas yang ‘ramai’ ditempeli dan digantung berbagai macam gambar, tulisan, hasil karya siswa maupun media buatan guru. Kebanyakan dinding kelas sekolah di Australia dilapisi papan lunak (softboard), sehingga dapat digunakan untuk menempel hasil karya siswa dan media belajar. Hal ini jarang terlihat di kelas sekolah di Indonesia yang terlihat ‘bersih’ dan tampaknya masih kurang media serta alat peraga yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu, jumlah siswa yang sedikit ini memungkinkan bentuk formasi bangku yang diatur melingkar sehingga para siswa dapat belajar, berdiskusi dalam kelompok juga bersosialisasi. Namun bisa kita pahami, hal ini kurang bisa diterapkan di semua sekolah di Indonesia yang lebih banyak memiliki kelas-kelas besar, karena jumlah penduduk yang jauh lebih besar dibandingkan Australia.
Kelima, dari segi tenaga pendidik, guru-guru di Australia amat disiplin. Para guru diwajibkan datang ke kelas sebelum murid-murid masuk. Hal ini tampaknya tengah digalakkan di Indonesia. Dengan adanya morning briefing bagi para guru sebelum masuk ke kelas tentu sangat baik untuk meningkatka kedisiplinan bagi tenaga pengajar dan juga sebagai sarana mendiskusikan persoalan-persoalan dalam proses belajar mengajar.
Keenam, tidak adanya Pendidikan Agama di Australia.



BAB III
KESIMPULAN
           
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan bahwa terdapat berbagai perbedaan yang mencolok antara pendidikan di Australia dan Indonesia. Beberapa perbedaan tersebut meliputi:
1.       Sistem pendidikan yang berbeda, dimana wajib belajar di Australia adalah 10 tahun (primary dan secondari school) sementara di Indonesia adalah 9 tahun (SD dan SMP).
2.      Tes nasional yang dilakukan oleh pemerintah Australia adalah NAPLAN (National Assessment Program-Literacy and Numeracy), yang dilakukan sebagai persiapan menuju year 10.  Sementara di Indonesia, tes nasional yang dilakukan adalah UNAS, yaitu setelah menyelesaikan jenjang SD, SMP, dan SMA.
3.      Tidak adanya pendidikan agama di Australia.


DAFTAR PUSTAKA

UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


http://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_Australia. Diakses pada tanggal 6 April 2013

http://www.australia.com/id/about/. Diakses pada tanggal 8 April 2013

http://www.mapsofworld.com/australia/education/. Diakses pada tanggal 8 April 2013



FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEINOVATIFAN


PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Proses inovasi adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individual
atau organisasi, mulai sadar atau tahu adanya inovasi sampai implementasi inovasi. Berapa lama waktu yang dipergunakan selama proses itu berlangsung akan berbeda antara orang atau masyarakat satu dengan yang lainnya, tergantung kepekaan orang atau masyarakat terhadap inovasi. Demikian pula selama proses inovasi itu berlangsung akan selalu terjadi perubahan yang berkesinambungan sampai proses itu dinyatakan berakhir.
Dalam wacana ilmu komunikasi, ada teori yang dinamakan Diffusion of Innovasion yang dikemukakan oleh Everett M. Rogers (1995). Teori ini membahas mengenai bagaimana sebuah inovasi baru dapat di adopsi oleh masyarakat. Masyarakat penerima inovasi tersebut oleh Rogers dinamakan sebagai adopter (pengadopsi).

2.      Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi keinovatifan?
2.      Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi keinovatifan?

3.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi keinovatifan.
2.      Untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keinovatifan.

PEMBAHASAN
1.      Definisi Keinovatifan
Keinovatifan (Innovativeness) adalah sejauh mana individu atau unit
adopsi lain relatif  lebih awal dalam mengadopsi ide-ide baru dari anggota lain dari suatu sistem.http://www.google.co.id/images/cleardot.gif Keinovatifan lebih menunjukkan perubahan perilaku yang nyata, yang menjadi tujuan utama dari sebagian besar program difusi, daripada hanya perubahan kognitif maupun sikap. Keinovatifan merupakan perilaku utama dalam proses difusi. (Rogers,1995).
Menurut Rogers (1995), keinovatifan adalah tingkat yang berkenaan dengan seberapa lama seseorang/kelompok/sistem sosial lebih dahulu dalam mengadopsi ide-ide baru dari konsep-konsep difusi inovasi dibandingkan dengan yang lain.
Keinovatifan menjadi perubah utama dalam proses difusi inovasi yang disponsori oleh agen perubahan. Pada negara berkembang keinovatifan dipandang sebagai salah satu indikator kesuksesan program-program pembangunan. Keinovatifan menunjukan perubahan tingkah laku yaitu tujuan akhir program difusi bukan hanya pikiran dan sikap. (Ibrahim, 1988).
Inovasi di sini yaitu sebagai sasaran yang dapat menjadi instrumen untuk melakukan perubahan sosial sedangkan keinovatifan merupakan tingkat pengadopsian dari kelompok masyarakat dan juga menjadi ciri pokok masyarakat yang sedang mengalami proses perubahan.
Proses perubahan tergantung pada waktu, objek dan sasaran. Ada yang gampang menerima atau bahkan sebaliknya yaitu sulit menerima atau menerima tetapi memerlukan waktu yang sangat lama.
Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa keinovatifan adalah sebuah proses seseorang dalam menerima gagasan, objek yang menyangkut metode, strategi baru dan produk kategori lebih awal apabila dibandingkan dengan yang lain dalam system sosialnya. Lamban atau cepatnya dalam menerima inovasi sangat tergantung pada individu penerima, karakteristik inovasi dan karakteristik lainnya yang individu itu berada di dalamnya.

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keinovatifan
Seperti telah diungkapkan sebelumnya bahwa tujuan utama proses difusi
adalah agar diadopsinya suatu inovasi. Namun demikian, seperti terlihat dalam model proses keputusan inovasi, ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi tersebut. Berikut ini adalah penjelasan dari beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi:


a.      Status Sosial Ekonomi (Socioeconomic Status)
Status sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat atau status sosial ekonomi adalah gambaran tentang keadaan seseorang atau suatu masyarakat yang ditinjau dari segi sosial ekonomi, gambaran itu seperti tingkat pendidikan, pendapatan dan sebagainya. (Soetjiningsih dalam Suparyanto).
Variabel dalam status sosial ekonomi yaitu pendapatan, gaya hidup, kekayaan, pekerjaaan dan lain sebagainya. Hal ini mempengaruhi keinovatifan seseorang.
Berikut ini, menurut Roger, perbedaan antara Earlier adopters dengan late
adopters dalam status sosial ekonomi, yaitu:
1.      Earlier adopters tidak berbeda dengan late adopters dalam hal umur.
Suatu inovasi dapat dilakukan oleh orang yang umurnya muda ataupun dewasa. Penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara umur dan keinovatifan.
2.      Earlier adopters memiliki pendidikan formal yang lebih tinggi dibandingkan dengan late adopters.
3.      Earlier adopters mungkin lebih terpelajar dibandingkan dengan late adopters.
4.      Earlier adopters memiliki status sosial yang tinggi dibandingkan dengan late adopters.
5.      Earlier adopters mempunyai mobilitas sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan late adopters.
6.      Earlier adopters mempunyai unit yang besar (pertanian, sekolahan, perusahaan, dan lainnya) dibandingkan dengan late adopters.
Roger memberikan pertanyaan dalam hal status sosial ekonomi, apakah
para inovator berinovasi karena kekayaan mereka ataukah mereka kaya karena mereka berinovasi? Jawabannya tidak semata-mata berdasarkan data tetapi ada alasan yang bisa dipahami mengapa status sosial dan keinovatifan berbeda secara bersamaan.
Ada beberapa ide baru yang berharga untuk diinovasi membutuhkan
pengeluaran modal awal yang besar. Dengan kekayaanlah mungkin bisa mengadopsi inovasi tersebut. Keuntungan yang lebih besar dapat diperoleh oleh yang pertama kali mangadopsi. Para inovator menjadi lebih kaya dan Laggards menjadi miskin dalam proses ini. Akan tetapi para inovator yang pertama tentu akan menerima resiko yang lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena ada beberapa inovasi yang mungkin gagal. Oleh karena dibutuhkan kekayaan yang cukup untuk menerima kerugian tersebut.
Walaupun kekayaan dan keinovatifan sangat erat kaitannya, faktor
ekonomi tidak memberikan penjelasan yang lengkap dari kebiasaan berinovasi. Misalnya, para inovator pertanian cenderung menjadi kaya, ada pula banyak petani kaya yang tidak berinovasi.
Teori Cancian
C:\Users\User79\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\2.jpg
      Gambar 1. Quartile Rangks on Socioeconomic Status (Roger)

Professor Frank Cancian adalah seorang antropolog yang menemukan “The Cancian Dip”. Toeri Cancian mengatakan bahwa status sosial ekonomi dan keinovatifan bergerak pada titik-titik yang ekstrim.
Teori ini mengungkapkan hubungan positif dan linier antara status sosial
ekonomi dan keinovatifan. Orang yang status sosial ekonomi tinggi (high) tingkat keinovatifannya lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang rendah (low) status sosial ekonominya. Ini berarti bahwa orang yang sosial ekonomi tinggi (high) dalam mengadopsi suatu inovasi diharapkan dapat menjadi lebih inovatif.
Cancian berpendapat di antara orang yang rendah (low) status sosial
ekonominya dan orang yang status sosial ekonomi tinggi (high) terdapat Low Middle dan High Middle Sosialeconomic Status (SES).

b.      Nilai-Nilai Kepribadian (Personality Values)
Kepribadian berhubungan dengan inovasi yang belum mendapat perhatian
penuh pada penelitian, sebagian dikarenakan kesulitan dalam mengukur dimensi kepribadian dalam lapangan wawancara.
1.      Earlier adopter memiliki empati lebih besar dibandingkan late adopters. Empati adalah kemampuan individu untuk memproyeksikan diri mereka pada orang lain. Kemampuan ini merupakan kualitas penting bagi inovator, yang harus bisa berpikir secara fakta, menjadi imajinatif, dan untukmengambil peran heteropilus agar mengubah informasi secara efektif.
2.      Earlier adopters mungkin sedikit dogmatik dibandingkan late adopters. Dogmatisme adalah derajat dimana seorang individu memiliki sistem kepercayaan dekat relatif, dimana merupakan sebuat pengaturan kepercayaan yang dipegang secara kuat. Orang dengan dogmatis yang tinggi tidak akan menerima ide-ide baru; seperti seorang individu akan lebih menyukai menata masa lalu.
3.      Earlier adopters memiliki kemampuan lebih banyak untuk berhadapan dengan abstraksi dibandingkan late adopters. Inovator harus bisa mengadopsi ide baru secara luas di atas dasar stimulus abstrak, seperti yang diterima dari media massa.
4.      Earlier adopters memiliki rasionalitas lebih besar dibandingkan late adopters. Rasionalitas berguna paling efektif untuk mencapai akhir.
5.      Earlier adopters memiliki kepandaian lebih besar dibandingkan late adopters.
6.      Earlier adopters memiliki sikap untuk berubah lebih baik dibandingkan late adopters.
7.      Earlier adopters memiliki kemampuan lebih baik dalam mengatasi ketidakpastian dan risiko dibandingkan late adopters.
8.      Earlier adopters memiliki sikap lebih baik terhadap ilmu pengetahuan dibandingkan late adopters.
9.      Earlier adopters memiliki sedikit fatalistik dibandingkan late adopters.
10.  Earlier adopters memiliki aspirasi lebih tinggi (untuk pendidikan formal, pekerjaan, dan sebagainya) dibandingkan late adopters.

c.       Perilaku Berkomunikasi (Communication Behavior)
1.      Earlier adopters memiliki partisipasi sosial lebih dibandingkan late adopters.
2.      Earlier adopters memiliki lebih tinggi dalam jaringan interpersonal pada sistem mereka dibandingkan late adopters. Keterhubungan merupakan derajat dimana seorang individu berhubungan dengan yang lain.
3.      Earlier adopters memiliki lebih kosmopolit dibandingkan late adopters. Jaringan interpersonal inovator lebih mungkin terjadi di luar dibandingkan di dalam, sistem mereka.
4.      Earlier adopters memiliki kontak agen lebih dibandingkan late adopters.
5.      Earlier adopters memiliki lebih banyak terbiasa dengan hubungan komunikasi interpersonal dibandingkan late adopters.
6.      Earlier adopters memiliki berhubungan dalam mencari informasi lebih aktif dibandingkan late adopters.
7.      Earlier adopters memiliki memiliki pengetahuan inovasi lebih besar dibandingkan late adopters.
8.      Earlier adopters memiliki sebuah pendapat kepemimpinan dengan derajat lebih tinggi dibandingkan late adopters. Walaupun inovasi dan pendapat kepemimpinan secara positif berhubungan, derajat dimana ini merupakan dua nilai yang berhubungan tergantung bagian norma sistem sosial. Dalam sebuah sistem dengan norma-norma yang baik untuk berubah, pendapat pemimpin lebih mungkin menjadi inovator.

Segmentasi Audiens dan Kategori Adopter
Sebagai kesimpulan, kita melihat bahwa kebanyakan perluasan sebelumnya, sebuah nilai-nilai dependen secara positif berhubungan dengan inovasi. Hubungan ini berarti bahwa skor inovator lebih tinggi pada nilai-nilai independen ini daripada laggards. Sebuah nilai, seperti dogmatisme dan fatalisme, secara negatif berhubungan dengan inovasi dan pendapat pemimpin adalah yang paling besar bagi earlier adopters, paling tidak pada kebanyakan sistem.
Karena itu, pengaturan karakteristik umum dari setiap kategori
adopters memiliki keperluan mendesak dari penelitian difusi. Perbedaan penting sejumlah kategori adopters ini menunjukkan bahwa mengubah agen seharusnya menggunakan pendekatan berbeda dengan kategori setiap adopter, karena itu mengikuti strategi segmentasi audiens. Segmentasi audiens adalah sebuah strategi dimana komunikasi berbeda, digunakan setiap sub audiens. Strategi ini memutuskan audiens heteropilus menjadi seri sub audiens yang lebih homopilus. Karena itu, sesuatu mungkin menjadi inovator yang mengadopsi inovasi karena hal itu terdengar teruji dan berkembang oleh saintis, tetapi pendekatan ini tidak seharusnya efektif dengan late majority dan laggards, yang tidak memiliki sikap yang baik terhadap ilmu pengetahuan. Mereka tidak akan mengadopsi ide baru sampai mereka merasakan bahwa kebanyakan ketidakpastian tentang penampilan inovasi telah diangkat; late adopters menempatkan kredibilitas paling besar dalam pengalaman subjektif, mengubah mereka melalui jaringan interpersonal.



KESIMPULAN
Keinovatifan adalah sebuah proses seseorang dalam menerima gagasan,
objek yang menyangkut metode, strategi baru dan produk kategori lebih awal apabila dibandingkan dengan yang lain dalam system sosialnya. Lamban atau cepatnya dalam menerima inovasi sangat tergantung pada individu penerima, karakteristik inovasi dan karakteristik lainnya yang individu itu berada di dalamnya.
Earlier adopters yang relatif dalam sistem sosial tidak berbeda dari late
adopters dari umur, tetapi mereka memiliki beberapa tahun lebih pendidikan formal, lebih terpelajar, memiliki status sosial lebih tinggi, dan unit lebih luas, seperti sawah, perusahaan, sekolah, dan sebagainya. Karakteristik kategori adopters ini mengindikasi secara umum bahwa earlier adopters memiliki status sosioekonomi lebih daripada late adopters.
Earlier adopters dalam sistem berbeda dengan late adopters dalam hal
kepribadian. Earlier adopters memiliki empati lebih besar, dogmatisme lebih sedikit, kemampuan lebih besar untuk bersaing dengan abstraksi, rasionalitas lebih besar, kepandaian lebih besar, sikap berubah yang lebih baik, kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian dan risiko lebih baik, sikap sesuai ilmu pengetahuan yang lebih baik, fatalisme lebih sedikit, dan aspirasi lebih tinggi untuk pendidikan formal, pekerjaan, dan sebagainya.
Akhirnya, kategori adopters memiliki tingkah laku komunikasi yang
berbeda. Earlier adopters memiliki partisipasi sosial lebih, lebih tinggi dalam jaringan interpersonal pada sistem mereka, lebih kosmopolit, memiliki kontak agen lebih, lebih banyak terbiasa dengan hubungan komunikasi interpersonal, berhubungan dalam mencari informasi lebih aktif, memiliki pengetahuan inovasi lebih besar, dan sebuah pendapat kepemimpinan dengan derajat lebih tinggi.
Penelitian lampau menunjukkan banyak perbedaan penting antara earlier and late adopters dalam 1) status sosioekonomi, 2) kepribadian, 3) tingkah laku komunikasi. Karakteristik khusus kategori lima adopters berarti bahwa kategori adopters ini dapat digunakan untuk segmentasi audiens.

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim. (1988). Inovasi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dirjendikti
Uwes A. Difusi Inovasi. 16 September 2008. URL: http://www.teknologipendidikan.net/2008/09/16/difusi-inovasi-just-theory/. Diunduh pada 15 April 2013.
Rogers, E. M. (1995). Diffusion of Innovations. New York: The Free Press.